Wednesday, April 10, 2019

KLIS, Solusi Pendidikan berkarakter Islami dan memiliki Jiwa Perdamaian

Kemarin, tanggal 9 April 2019, saya berkesempatan untuk menghadiri Forum Internasional mengenai Islam, Pendidikan dan Global Peace. Tema "Islam, Education dan Global Peace" sedikit menggelitik hati saya, karena memang sejak dahulu faktanya Islam selalu dicap sebagai perang, radikal, teroris dsb. Rasanya agak sulit melepas stigma tersebut tanpa masuk dan belajar lebih dalam tentang bagaimana makna Islam yang sesungguhnya.


Karena saya termasuk orang yang sangat peduli dengan pendidikan, tidak ada salahnya buat saya untuk menambah wawasan dengan datang ke acara kemarin. Bersyukurnya karena lokasi rumah saya sangat dekat dengan transportasi MRT maka tidak sulit untuk saya untuk datang ke K-Link Tower tepat waktu, tidak kurang dari 30 menit saja dari Lebak Bulus :).






Tiba di lokasi, saya langsung registrasi, lalu melihat rundown acara, ternyata banyak kegiatan pada tanggal 9 April 2019 lalu, lebih tepatnya lagi momen dimana banyak sekali tokoh-tokoh pendidikan yang hadir, kalau tidak salah lebih dari 60 universitas dari seluruh dunia, Masyaa Allah...

Acara yang diselenggarakan di K-Link Tower tersebut bekerjasama dengan Asian Islamic Universities Association (AIUA) sekaligus launching sekolah Islam International milik K-Link Indoensia yaitu KLIS (Knowledge Link International Culture) saat ini khusus untuk primary school dan secondary school. Adapun lokasi KLIS sendiri ada di 2 tempat yaitu di Gedung K-Link Tower lantai 11 dan kawasan Sentul Bogor.

Saat acara dimulai, dibuka dengan 2 pembawa acara, yang satu berbahasa Arab, satu lagi berbahasa Inggris, karena tokoh-tokoh pembicara yang hadir berbahasa Arab dan Inggris, dan juga bahasa Melayu (Malaysia).

Acara ditandai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu dibuka oleh Presiden Director Klink Indonesia, Dato' Radzi. Secara singkat Dato' Radzi menjelaskan kenapa ada sekolah KLIS. KLIS lahir dari kurikulum yang terintegrasi yang bukan hanya dunia tetapi juga akhirat, diharapkan dengan integrasi kurikulum yang diformulasikan maka pelajar KLIS akan menjadi pribadi yang cerdas secara akademik dan juga dinamis dalam kecerdasan spiritual dan sosialnya.


Lalu dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara 3 tiga lembaga pendidikan besar seperti USAS (University Sultan Azlan Shah), Madina Institute dan KLIS (Knowledge Link Intercultural School) Secondary. Kerja sama tersebut sebagai bentuk dari aplikasi kurikulum yang terintegrasi yang di dalamnya terdapat cakupan mata pelajaran Tahfizh Qur’an, Arabic Language dan Islamic Studies.





Setelah acara penandatangan MoU saya dan undangan khusus, menuju ke ruangan konferensi media, dimana kami bebas untuk bertanya mengenai penandatanganan MoU tadi dan juga tentang KLIS yang baru saja diluncurkan.


Beberapa pertanyaan menggelitik terutama adalah masalah biaya, karena seperti yang kita ketahui bersama, tidak hanya di ibukota, semua orangtua menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dan secara levelisasi, semakin baik fasilitasnya, tentu saja biayanya juga akan semakin mahal, bukankah demikian ? :)

Pertanyaaan tersebut dijawab secara diplomatis oleh Direktur K-Link Indonesia, bahwa mahal itu relative, tidak menutup kemungkinan pelajar yang berprestasi di bidangnya akan diberikan beasiswa oleh institusi yang bekerjasama dengan KLIS, misalkan, penempatan belajar di Madina Institute di USA atau South Africa, atau belajar di USAS Malaysia.

Pendidikan karakter pelajar KLIS juga menggarisbawahi bahwa Islam itu damai, bukan identik dengan kekerasan atau perang  juga ditekankan pada konferensi tersebut.

Selesai konferensi media, saya berkesempatan juga untuk melihat-lihat ruang kelas belajar yang akan digunakan oleh pelajar KLIS tingkat secondary, berikut ruangan-ruangan yang sempat saya abadikan sedikit.






Setelah acara tersebut dilanjutkan lagi dengan acara seminar Seminar yang membahas tentang kurikulum pengajaran KLIS ini menghadirkan sejumlah tokoh pendidikan internasional dari dalam dan luar negeri, di antaranya, Sheikh Dr. Muhammad Bin Yahya Al-Ninowy (Pendiri Madina Institute dari USA), Prof. Dr. M. Amin Abdullah (Mantan rektor UIN Sunan Kalijaga Indonesia), Prof. Dr. Amany Lubis (Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta), Dr. Mikdar Rusdi (Senior Assistant Professor dari Seri Begawan Religious College, Brunei Darussalam), Assoc Prof. Dr. Ismal Lutfi Japakya (Rektor dari Fatoni University, Thailand), dan Dato’ Dr. Muhammad Nur Manuty (Chairman of UNISZA, Malaysia).


Dan seperti yang sudah saya sebutkan di awal, ada sebanyak 60 universitas yang menjadi anggota di dalam asosiasi AIUA hadir dalam seminar tersebut, yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, University Sultan Azlan Shah, Madina Institute, Fatoni University, dan sebagainya.

Semoga acara kemarin diharapkan dapat mewakili bahwa kami cinta pendidikan, Islam yang cinta perdamaian dengan berbagai suku bangsa di Indonesia menjadi sebuah pondasi dasar untuk menciptakan generasi yang taat pada Allah, taat pada orangtua, cerdas spiritual dan social dan kelak akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang mencintai perdamaian, sebagaimana Islam adalah Rahmatan Lil Alamin.

Oiya, bagi yang mau mendaftarkan putra-putrinya di KLIS, masih ada potongan harga sebesar 30%, tapi batasnya sampai kapan saya tidak tahu, sebaiknya segera saja kalau berminat ya :)










0 comments:

Post a Comment