Tuesday, April 15, 2014

Umroh Tanpa Mahram, bagaimana hukumnya ?


Bagi wanita, ada hal-hal yang membatasi diri kita sebagai seorang perempuan dalam menjalankan ibadah, mulai dari shalat, kita dibatasi oleh haid, dibatasi oleh nifas. Shalat Jum'at, shalat wajib berjamaah atau taraweh berjamaah di masjid juga dibatasi karena wajib hukumnya perempuan jika sudah menikah untuk menjaga harta suaminya saat sedang di luar rumah, kecuali suami mengizinkan.

Demikian pula halnya dengan melaksanakan ibadah umroh dan haji. Sebagai seorang perempuan, apalagi masih berusia dibawah 45 tahun, tidak wajib baginya untuk umroh atau haji tanpa didampingi oleh Suami atau ayah kandung atau saudara laki-laki kandung diatas 17 tahun.

Secara regulasi, pemerintah Arab Saudi mensyaratkan perempuan di bawah 45 tahun harus didampingi suaminya, ayahnya atau saudara laki-lakinya.

Kebanyakan dari persyaratan  tidak dapat dipenuhi karena berbagai halangan, misalnya, ayahnya sudah meninggal, tidak punya saudara laki-laki dan belum menikah. Halangan lainnya misalnya suaminya tidak dapat mendampingi karena urusan pekerjaan, dsb.

Saya pribadi pernah umroh tanpa didampingi suami. Tetapi suami mengizinkan dan saya luruskan niat untuk ibadah di Tanah Suci. Beberapa Travel ada yang membuat surat mahram, dengan istilah "mahram tumpang" utk kasus seperti saya karena saya tidak didampingi suami.
Sebenarnya secara hukum Islam tidak boleh karena menurut hadits Rasulullah :
“Tidak halal bagi perempuan yang beriman dengan Allah dan hari akhirat untuk keluar tiga hari atau lebih, melainkan bersama-samanya bapanya atau saudara kandung lelakinya atau suaminya atau anak lelakinya atau mana-mana mahramnya”[HR Bukhari dan Muslim] (di dalam riwayat lain ada dinyatakan satu hari satu malam dan ada yang menyebut dua hari dua malam).
Perkara ini bukan menutup peluang wanita untuk mengerjakan haji atau umroh, bukan juga merupakan satu diskriminasi kepada kaum wanita. Tetapi hukum ini adalah hukum yang telah ditetapkan oleh Islam untuk kemashlahatan wanita itu sendiri.  Sebagai seorang Muslim, kita telah sedia maklum bahawa apa-apa ketetapan yang dibuat oleh Allah dan RasulNya, adalah hukum yang wajib dipatuhi. Adalah jelas sekiranya syarat mahram tidak dipenuhi maka hukum wajib haji dan umrah kepada seseorang wanita tidak berlaku.

Setiap orang Islam perlu melakukan ibadah yang terbaik dan ibadah yang terbaik ialah menepati syariat. Maka mestilah difahami dengan benar bahawa dalam bab mahram, Islam tidak memiliki istilah “mahram  tumpang”. Oleh itu, dalam melaksanakan ibadah kepada Allah S.W.T, perkara-perkara yang melibatkan tata cara dan hukum-hukum ini seharusnya dipatuhi secara tauqifiyyah (seadanya, tanpa menambah-nambah) bagi memastikan hukum terpelihara dan tidak mendapat kemurkaan Allah S.W.T.

Ya Allah, ampuni hamba atas segala dosa yang telah hamba perbuat....


5 comments:

  1. Assalamualaikum Wr Wb

    Terkait dengan artikel di atas , maka ada yang ingin saya tanyakan yaitu mengenai Mahram yang berusia di bawah 17 tahun (masih berumur 15 tahun) .Saya ada rencana utk pergi umroh dan Mahram saya adalah keponakan laki-laki yang baru berusia 15 tahun.
    Yang saya ingin tanyakan apakah Mahram ini sah / bisa saya gunakan utk umroh ? ( masih 15 tahun belum berumur 17 tahun)
    Kondisi saya sendiri usia 41 tahun dan belum menikah , dan keponakan saya ini sudah di sunat (akil baligh).

    Terima kasih,
    Rina

    ReplyDelete
  2. terkait artiket diatas
    saya ingin menanyakan apabila orang tua (ibu) umur 57th membiayai anak laki2nya umroh bersama dengan beliau, sedangkan anak laki2nya sudah mempunyai istri dan balita usia 20bln, dan ketika itu istri melarang suaminya u/ umroh dikarenakan istri dan si balitan pengen ikut juga, tetapi secara financial tidak mencukupi, walhasil istri tidak ridho , trus solusi terbaik bagaimana , apakah ttp umroh bersama ibu atau mengikuti kata istrk ??
    terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. bismillahirahmanirrahim afwan ana bukan orang berilmu akan tetapi seorang anak laki2 lebih wajib mentaati ibunya apalagi yang diminta menemani ibunya beribadah. Sampai mati , seorang ibu masih menjadi tanggung jawab anak lelakinya dan seorang istri harus paham bahwa suaminya harus mentaati ibunua lebih dari istrinya kecuali dalam maksiat atau yg bertentangan dgn ajaran Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam.
      semoga akhi bisa menasehati istrinya dengan dalil2 yang jelas dan kalau istri tetap pada pendiriannya, tetaplah pergi dan doakan istri selama beribadah umroh. Wallahu a'lam bishowab

      Delete
    2. Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata; "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "kemudian siapa lagi?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dia menjawab: "Kemudian ayahmu." HR. Bukhari no.5971 dan Muslim no.2548

      Apabila pasangan hidup seseorang tanpa alasan syar'i memintanya melakukan hal-hal yang menjadikannya durhaka kepada orang tuanya atau menjadikan mereka marah maka pasangan tersebut tidak boleh diikuti permintaannya karena permintaan itu menyelisihi nash yang jelas.

      yah terkecuali antum milih dunia ya ikutin aja perkataan istri.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete