Selamat Datang Di Website Saya, Yuditha Anggraeni Affandi Skom., MMSI

Seorang manusia yang sedang berproses untuk menjadi lebih baik. Ibu dari 3 anak ganteng dari suami ganteng Aceng Luqman Taufiq. pernah belajar di Komunitas Bisnis Dari Rumah, BISMA Center, Click To Bricker dan Women OPTIMIZer. Sempat jadi staff tetap di salah satu Universitas swasta selama 12 tahun sebelum menemukan passionnya. Saat ini masih menjadi freelance Konsultan Umroh dan Haji, Konsultan Website Komunitas dan Sosial Media, dan sangat menikmati proses pekerjaannya. Berharap ingin menjadi ibu terbaik, istri terbaik dan mengharap Ridho Allah, karena Ridho Allah adalah KEBERUNTUNGAN yang TERBESAR...

Sunday, November 17, 2013

Senangkan dirimu, Senangkan Orang Tua-mu, Senangkan Rabb-mu

Sebagai orangtua yang memiliki 3 anak lelaki, dengan karakter yang berbeda-beda, terkadang kami harus memberi perhatian pada satu anak tanpa merasa anak yang lain dibedakan dari saudara kandungnya.
Terkadang juga ego orangtua, impian orangtua untuk mengarahkan anaknya menuju jalan yang diridhoi Rabb-nya harus melalui jalan yang berliku meskipun pada akhirnya tujuan yang akan dicapai akan sampai juga ke arah yang sama.

Ini tulisan kok dalem banget ya? hehehe

Seminggu ini kami sebagai orangtua, harus berfikir dan memutuskan sesuatu yang penting untuk anak sulung kami, yang sudah 1,5 tahun hidup sebagai santri di Pesantren Daarul Qur'an, tiba-tiba di akhir semester ganjil kelas 8 kami putuskan untuk memindahkan tempat menuntut ilmunya dari pesantren boarding ke tempat pendidikan non boarding.

Alasan kesehatan yang sakit-sakitan terus selama di pesantren membuat Adzkar, si sulung menjadi sangat kurus seperti tidak terurus, seperti tertekan. Suami saya sebagai kepala keluarga mengambil keputusan secepat mungkin saat Adzkar menyatakan pingin pindah sekolah secepat mungkin.

Sebagai orangtua, dan sebagai ibu, ada rasa bersalah sekaligus rasa sedih. Merasa bersalah, apakah saya sebagai seorang ibu terlalu memaksakan kehendak untuk memenuhi keinginan mempunyai anah penghafal al qur'an, tanpa menanyakan pada anak apakah dia suka dengan cara kami? Saya sempat terpukul karena kalau Adzkar tidak suka, dia bisa menyelesaikan hafalan qur'annya sebanyak 6 juz dalam kurun waktu 1.5 tahun dan bisa berbahasa Arab.

Kondisi fisik Adzkar sejak bayi memang lemah, sering sakit-sakitan, jika memang dipaksakan takut pelajaran di pesantren menjadi terganggu. Adzkar juga mengatakan pernah beberapa kali dibully,  mumgkin karena faktor fisik yang membuat dia suka diolok-olok sehingga membuat Adzkar tidak nyaman.

Alhamdulillah setelah mencari dan berkeliling untuk mencari sekolah yang tepat, sempat putus asa karena birokrasi sekolah yang sangat ketat, akhirnya kami menemukan sekolah yang mau menerima Adzkar di hampir akhir semester ganjil. Sekolah berbasis Religi, Tahfidz dan Teknologi, yang membuat kami akhirnya segera mengurus kepindahan Adzkar dalam sekejab waktu.

Hari ini adalah hari pertama Adzkar menjalani kehidupan baru pendidikannya di Emirattes Islamic School. Walaupun ada rasa sedih karena harus meninggalkan pesantren DaQu, hidup harus terus berjalan. Pesan saya pada Adzkar adalah, lakukanlah apa saja yang kamu sukai nak, selama itu di jalan Allah, senangkan dirimu, senangkan ummi dan ayah, senangkan juga Tuhanmu, Allah SWT.